Hidroponik

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dalam dunia modern ini pertanian juga semakin maju untuk menjawab tantangan dari pada masalah-masalah yang muncul dimasa sekarang. Seperti masalah yang semakin sempitnya lahan pertanian dikarenakan alih fungsi lahan pertanian yang katanya lebih menguntungkan dari pada digunakan untuk pertanian, seperti pembukaan swalayan, tempat-tempat hiburan dan lain sebagainya. Padahal kita ketahui mayoritas masyarakat Negara kita hidup dari bertani sehingga ketika lahan yang digunakan untuk menghidupi mereka dan keluarganya di alih fungsikan, maka tidak ada yang dapat mereka andalkan untuk memenuhi kebutuhannya. Bercermin dari masalah itu maka solusi demi solusi muncul untuk membantu keadaan pertanian kita yang semakin terpinggirkan, khususnya para petani yang telah kehilangan sawah-sawah mereka. Solusi tersebut salah satunya berupa sistem tanam yang tidak menggunakan media yang selama ini di anggap sebagai media satu-satunya untuk bertanam. Media tersebut berupa media non tanah, bias berupa air, udara, maupun jenis lain yang selain tanah, seperti arang sekang, pasir dan lain sebagainya.
Hidroponik diambil dari bahasa Yunani yaitu Hydroponous, hydro berarti air dan ponous berarti kerja. Hidroponik adalah teknologi bercocok tanam yang menggunakan air, nutrisi, dan oksigen. Ada beberapa keuntungan yang bisa didapat dari bertanam secara hidroponik dibandingkan bertanam secara konvensional.
Dalam perkembangannya sejak mulai popular 40 tahun lampau, hidroponik telah banyak mengalami perubahan. Media yang digunakan lebih banyak yang sengaja dibuat khusus. Demikian juga dengan wadah-wadah yang digunakan, seperti pot. Ada yang sengaja dibuat khusus lengkap dengan alat penunjuk kebutuhan air, ada pula yang khusus seperti kerikil sintesis.
Metode hidroponik merupakan metode menumbuhkan tanaman di dalam larutan nutrisi tanpa menggunakan media tanah. Ditinjau dari segi sains, hidroponik telah membuktikan bahwa tanah tidak diperlukan untukm menumbuhkan tanaman, kecuali unsur-unsur, mineral dan zat-zat makanan seperti dalam tanah. Dengan mengeliminasi tanah berarti juga mengeliminasi hama/penyakit yang ada dalam tanah dan mengurangi pengendalian tanah secara teliti nutrisi tanaman. Dalam larutan hidroponik telah tersedia zat-zat makanan untuk tumbuhan dengan perbandingan yang tepat, sehingga dapat mengurangi stress pada tanaman, lebih cepat matang dan panenpun akan lebih bagus kualitasnya.
Media tanam hidroponik berfungsi sebagai penegak tanaman agar tidak roboh dan juga sebagai penghantar cairan unsur hara. Jadi, ada beberapa jenis media tanam yang boleh dipakai, seperti pasir, tembikar, arang, dan sabut kelapa. Hanya, media yang akan kita gunakan itu harus kita sesuaikan dengan tanamannya. Untuk tanaman hias disarankan menggunakan media tanam batu apung.
Keuntungan bercocok tanam tanpa media tanah adalah : 1.) produksi tanaman lebih tinggi dibandingkan menggunakan media tanah biasa, 2.) lebih terbebas dari hama dan penyakit tanaman, 3.) tanaman lebih cepat tumbuh dan penggunaan pupuk lebih hemat, 4.) bila ada tanaman yang mati dapat langsung diganti dengan mudah dengan tanaman lain, 5.) kualitas bunga, buah, dan daun lebih baik dan tidak mudah kotor, 6.) keterbatasan ruang dan tempat bukanlah halangan

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu untuk memahami cara pembuatan media tanam non tanah dalam bentuk cair dan padat untuk budidaya system hidroponik.

II. TINJAUAN PUSTAKA
Hidroponik adalah sebuah istilah yang menaungi banyak macam metoda. Prinsip-prinsip dasar hidroponik dapat diterapkan dalam macam cara, yang dapat disesuaikan dengan persyaratan-persyaratan finansial maupun keterbatasan ruang pada tiap orang yang ingin mengerjakannya. Metoda-metoda bercocok tanam hidroponik yang telah dikembangkan selama 45 tahun ini, dapat dibagi menjadi beberapa kategori. Pada metoda menggunakan air, tumbuh-tumbuhan ditanam semata-mata dalam air yang dilengkapi dengan larutan zat makanan. Metoda yang menggunakan pasir menuntut penanaman tumbuh-tumbuhan pada pasir yang disteril, ke dalamnya sejumlah air dan larutan zat makanan dipompakan masuk. Metoda agregasi menggantikan pasir dan dengan menggunakan serentetan material, seperti kerikil (Nicholls, 1996).
Secara umum hidroponik berarti sistem budidaya pertanian tanpa menggunakan tanah tetapi menggunakan air yang berisi larutan nutrient. Media tanam lain dapat berupa kerikil, pasir, gabus, arang, zeolit, atau tanpa media agregat (hanya air). Media tersebut biasanya bebas dari unsur hara (steril) sementara itu pasokan unsur hara yang dibutuhkan tanaman dialirkan ke dalam media tersebut melalui pipa atau disiramkan secara manual. Nutrien atau pupuk hidroponik yang telah dilarutkan dalam air didistribusikan kepada media dengan jalan jaringan mikro irigasi, yaitu meneteskan dengan jaringan ke media tanaman dan langsung diserap, tidak bisa kembali lagi. Media tanaman hidroponik tidak mempunyai zat hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Pemberian larutan nutrien secara terus menerus ke dalam media tanaman hidroponik sangat diperlukan dan diperhitungkan berdasarkan jumlah dan jenis tanaman yang ditanam. Pengairan tanaman dengan sistim hidroponik dikenal dua sistem pengairan, yaitu sistem genangan air dan sistem pengaliran air. Sistem genangan air adalah suatu system dengan cara memasukkan air pada wadah (pot) dengan ukuran ketinggian air didalam wadah jangan melampaui akar atau akar jangan terendam oleh genangan air, hal ini untuk menghindari supaya jangan membusuknya akar tanaman. Sistem genangan air ini dipakai apabila kita mempergunakan wadah akuarium. Kelemahan sistem genangan air ini adalah terjadinya pengendapan nutrien dibawah (Siswa, dkk., 2000).
Pemberian pupuk yang umum yaitu dengan menabur langsung ke tanah tempat bibit yang di tanam. Akan tetapi, pada hidroponik pupuk diberikan dalam bentuk larutan dan lebih dikenal dengan istilah nutrien. Kandungan unsur hara yang dibutuhkan untuk tanaman hidroponik tidak berbeda dengan tanaman di media tanah. Unsur hara yang dibutuhkan terdiri dari unsur makro (N, P, K, Ca, Mg, dan S) dan unsur mikro (Mn, Cu, Mo, Zn, dan Fe) (Palungkun, dkk, 1999).
Banyhak hal yang dapat menyebabkan hidroponik gagal dan kurang subur, diantaranya adalah tanamannya belum mengalami adaptasi, terjadi kesalahan dalam melakukan hidroponiknya. Contohnya batu apungnya kurang bersih atau kurang steril dari garam-garam mineral dan pasir (Hasim, 1995).
Bila menggunakan metoda kultur porous atau agregat biasanya harus disterilkan terlebih dahulu kerikil-kerikilnya. Mensterilkannya adalah dengan cara jalan pemanasan atau bisa pula dengan menyikatnya sampai bersih dengan menggunakan air sabun yang hangat. Menggunakan media kultur porous ini tergolong mudah. Hanya saja bila menggunakan media ini tanaman akan mudah kering, berarti kita harus rajin-rajin menyiramnya (Lingga, 1999).
Media tanam hidroponik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut, yaitu dapat menyerap dari penghantar air, tidak mempengaruhi pH air, tidak mengubah warna, tidak mudah lapuk dan membusuk. Media tanam kultur hidroponik dapat dibagi menjadi dua, yaitu media tanam anorganik, contohnya batu apung yang berasal dari bebatuan larva gunung berapi. Sifatnya ringan, sukar lapuk, tidak mempengaruhi pH, porous mudah menyerap dan menyimpan air, serta mengalirkan air dalam jumlah yang banyak. Batu apung terbaik untuk media tanam hidroponik perlu direkayasa menjadi sebesar kerikil (Fitter dan Hay, 2000).
Sebelum mulai mencoba hidroponik, hendaknya terlebih dahulu ditentukan tingkat suhu, kelembaban, serta jumlah sinar di tempat dimana kita mencoba hidroponik. Tingkat suhunya selain untuk mengatur tanaman dalam memperoleh energy, tapi juga erat kaitannya dengan kelembaban udara. Pada temperature 23ºC, kelembaban 40 % amat sesuai denagn tanaman. Sinar atau cahaya adalah salah satu bagian penting dalam proses fotosintesis (Lakitan, 2004).

III. BAHAN DAN METODE

3.1 Tempat dan Waktu
Adapun dilaksanakannya praktikum Pembuatan Media Cair dan Padat Untuk Hidroponik bertempat di Laboraturium Holtikultira, Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Jember pada hari jumat 18 Maret 2011 pukul 07.00 WIB.

3.2 Bahan dan Alat
3.2.1 Bahan
1. Larutan nutrisi A, B, Mix
2. Pupuk gandasil B
3. Pupuk NPK, Urea, KCL, dan SP – 36
4. Arang sekam dan pasir

3.2.2 Alat
1. Pot Plastik
2. Pipa paralon
3. Gelas ukur
4. Cetok / alat pengaduk dan penggaris

3.3 Cara Kerja
1. Menyiapkan media padat dengan formulasi dari arang sekam dan pasir steril dalam perbandungan (50 % : 50 %) dan memasukkan ke dalam pot plastic yang telah disediakan dengan berat total mdia 5 kg per pot.
2. Menyiapkan media cair hidroponik system NFT dengan menggunakan bak atau tulang paralon yang telah disediakan dengan volume air sesuai kebutuhan.
3. Menyiapkan larutan nutrisi A B Mix dalam 30 liter air.
4. Menyiapkan pupuk NPK, Urea, KCL dan SP – 36
5. Menyiapkan nutrisi Gandasil B, insektisida dan fungisida.
6. Semua larutan nutrisi poin 3, 4, dan 5 masing – masing ditambahkan pada media padat dan media cair yang telah disiapkan.

IV. PEMBAHASAN

Cara pembuatan media hidroponik padat yang dilakukan pertama yaitu dengan menyiapkan pot-pot yang akan dipakai untuk tempat menanam, atau bak-bak tanaman, lengkapi dengan instalasi cara pengairannya. Selanjutnya siapkan media tanaman (pasir, atau arang sekam) yang sebelumnya telah dilestarikan dengan cara merebus dalam tong untuk mematikan mikroorganisme dan lain-lain. Selain itu kita harus menyiapkan tanaman yang mempunyai kebutuhan nutrisi berbeda, namun ada yang bersifat umum, yaitu kebutuhan akan: makronutrien, mikronutrien, vitamin, dan ZPT (zat pengatur tubuh). Setelah itu masukkan pasir ke dalam pot atau bak tidak sampai penuh, kira-kira ¾ dari permukaan. Siram dengan cairan nutrisi, biasanya pada tahap awal 100 ml nutrisi per hari. Buat lubang sesuai dengan ukuran bibit yang akan ditanam. Selanjutnya membersihkan akar bibit tanaman dari tanah, masukkan ke dalam lubang-lubang yang telah dibuat. Penyiraman sebanyak 1 – 1,5 liter dilakukan 5 – 8 kali setiap hari dengan air dan larutan makanan. Pemberian fungisida pada media sebelum ditanam berfungsi untuk menghilangkan dan mencegah munculnya hama seperti jamur yang dapat mengganggu aktifitas pertumbuhan tanaman yang akan kita tanam dan media yang akan kita pakai akan benar – benar steril serta siap untuk proses penanaman.
Definisi hidroponik berasal dari kata Yunani, yaitu hudor yang berarti air dan ponos yang berarti mengerjakan, sehingga hidroponik diartikan sebagai pengerjaan air. Hal ini karena pada mulanya orang melakukan penanaman pada air. Meskipun ada yang mengartikan langkah tersebut sebagai aquaculture. Seiring dengan perkembangan metode penanaman yang menggunakan berbagai jenis media maka istilah itu juga berkembang, yang pada dasarnya adalah budidaya tanpa tanah. Sistem hidroponik dikembangkan karena ketersediaan lahan tanah yang tidak mencukupi, selain itu kebersihan tanaman begitu terjamin sehingga dapat diletakkan diruangan manapun. Hampir semua jenis tanaman bisa ditanam dengan cara hidroponik, hasilnya sudah teruji melimpah dibanding dengan bercocok tanam di lahan atau sawah. Metode yang digunakan untuk hidroponik ini digolongkan menjadi tiga bagian yaitu: metode kultur air (menumbuhkan tanaman dengan air), metode kultur pasir (gabungan metode kultur air dan pasir, dimana air sebagai pensuplai nutrien tanaman, sedangkan pasir sebagai media tumbuh tanaman) dan metode kultur bahan porous (pada prinsipnya sama dengan kultur pasir, tetapi pasir diganti dengan material berporous). Untuk zeolit alam maka teknik hidroponik yang dikembangkan termasuk metode bahan porous. Pada dasarnya hampir semua jenis tanaman dapat ditanam secara hidroponik, termasuk teknik hidroponik yang menggunakan media zeolit alam. Mengingat bentuk butiran zeolit yang bersih dan berwarna kehijau-hijauan maka teknik hidroponik dengan zeolit ini sangat cocok untuk penanaman jenis tanaman hias, baik untuk keperluan di dalam ruangan (indoor) maupun luar ruangan (outdoor). Namun, secara umum pada saat ini ditinjau dari metode pembuatannya hidroponik debedakan menjadi dua yaitu hidroponik substrat (padat) dan non substrat (cair). Contoh media tanam papa hidroponik substrat adalah arang sekam, pasir, kerikil batu apung / cocopeat, rock wool, dan spon. Sedangkan pada non subtrat dilakukan dengan akar tanaman langsung masuk pada talang air, model ini disebut juga NFT (Nutrient Film Technique).
Beberapa keuntungan menggunakan teknologi hidroponik, ditinjau dari tiga aspek, yaitu :
1) Keuntungan secara teknologis Keuntungan yang bisa didapat, produk hidroponik lebih terjamin kebebasannya dari hama penyakit yang berada di dalam tanah, hidroponik menggunakan metode kerja yang lebih praktis dan tepat guna, memungkinkan menanam suatu jenis tanaman di luar musim tanam, sehingga secara komersial mempunyai harga jual yang lebih baik, dan hidroponik mampu memanfaatan lahan sempit atau kritis dan tidak produktif.
2) Keuntungan secara ekonomis Dapat menjadi sumber peningkatan penghasilan dan profesi, meningkatkan pemenuhan sumber pengadaan gizi masyarakat dan keluarga jika diusahakan dalam skala besar dapat meningkatkan ekspor yaitu produk hortikultura segar dan berkualitas tinggi.
3) Keuntungan bagi lingkungan dan social Dapat dijadikan sarana pendidikan pertanian modern, memperindah lingkungan, dan mengesankan dunia pertanian yang bersih, dapat menimbulkan gairah usaha mandiri, menciptakan lapangan pekerjaan, bisa menjadi tempat berkreasi orang-orang lanjut usia, dan merupakan usaha agribisnis di perkotaan tanpa mencemari lingkungan.
Selain keuntungan dan manfaat seperti dipaparkan di atas, usaha hidroponik juga dihadapkan pada berbagai kendala yang menyebabkan masih tersendat-sendatnya perkembangan hidroponik di Indonesia. Kendala-kendala penerapan teknologi hidroponik di Indonesia, yaitu :
1. Kendala teknologi Rendahnya pengetahuan tentang fisiologi tumbuhan (keperluan unsur hara, sinar matahari, oksigen, air, temperatur, ruang), pengetahuan tentang pupuk dan pemupukan, pengairan. Pengetahuan tentang green house (desain, bahan baku) dikalangan petani masih sangat kurang apalagi pengetahuan tentang cara budidaya setiap tanaman.
2. Kendala pemasaran Beberapa kendala dalam pemasaran meliputi rendahnya kualitas, kuantitas, dan kontinuitas. Untuk skala usaha yang kecil menyebabkan produksi yang kecil/rendah pula, perlu menggandeng pemasok agar harga lebih rendah. Pasar elite sulit ditembus oleh pemula dan perlu pengetahuan pasca panen yang benar
3. Kendalam modal/biaya Dalam biaya dibutuhkan modal besar untuk memulai, keperluan perawatan tanaman sehari-hari, perawatan green house dan kelengkapan irigasi dan biaya untuk pengemasan, pemasaran, dan promosi.
Menurut saya prospek usaha tanaman hidroponik salah satu perkembangan teknologi budidaya pertanian yang layak disebarluaskan. Hal ini disebabkan oleh semakin langkanya sumberdaya lahan, terutama akibat perkembangan sektor industri dan jasa, sehingga kegiatan usaha pertanian konvensional semakin tidak kompetitif karena tingginya harga lahan. Teknologi budidaya pertanian sistem hidroponik memberikan alternatif bagi para petani yang memiliki lahan sempit atau yang hanya memiliki pekarangan rumah untuk dapat melaksanakan kegiatan usaha yang dapat dijadikan sebagai sumber penghasilan yang memadai. Perbedaan paling menonjol antara hidroponik dan budidaya konvensional adalah penyediaan nutrisi tanaman.P ada budidaya konvensional, ketersediaan nutrisi untuk tanaman sangat tergantung pada kemampuan tanah menyediakan unsur-unsur hara dalam jumlahcukupdanlengkap Selain keuntungan dan manfaat seperti dipaparkan di atas, usaha hidroponik juga dihadapkan pada berbagai kendala yang menyebabkan masih tersendat-sendatnya perkembangan hidroponik. Dari beberapa referensi yang saya peroleh, biaya investasi untuk penanaman hidroponik secara komersial dengan skala kecil untuk luas tanah sekitar 100 m2 sekitar Rp 150 juta untuk pembuatan bak tanaman, bak penampung air, pipa saluran air, media , cairan larutan, dan bibit tanaman. Pengembalian investasinya sekitar Rp 500 juta hingga Rp 750 juta per tahun. Suatu peluang usaha yang pantas untuk digeluti.
Pada hidroponik dengan media padat terdapat kelebihan dan kekurangan pada masing – masing media yang digunakan. Kelebihan dan kekurangan tersebut yaitu :
1. arang sekam
Kelebihan :
Penggunaan sekam bakar untuk media tanam tidak perlu disterilisasi lagi karena mikroba patogen telah mati selama proses pembakaran. Sekam bakar memiliki kandungan karbon (C) yang tinggi sehingga membuat media tanam ini menjadi gembur.
Kekurangan :
yaitu media sekam bakar cenderung mudah lapuk sehingga kandungan hara menjadi tidak konstan.
2. Bokasi
Kelebihan:
Kandungan unsur haranya yang lengkap seperti natrium (N), fosfor (P), dan kalium (K) membuat pupuk kandang cocok untuk dijadikan sebagai media tanam. Unsur-unsur tersebut penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Selain itu, pupuk kandang memiliki kandungan mikroorganisme yang diyakini mampu merombak bahan organik yang sulit dicerna tanaman menjadi komponen yang lebih mudah untuk diserap oleh tanaman
Kekurangan:
Komposisi kandungan unsur hara pupuk kandang sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain jenis hewan, umur hewan, keadaan hewan, jenis makanan, bahan hamparan yang dipakai, perlakuan, serta penyimpanan sebelum diaplikasikan sebagai media tanam
3. Pasir
Kelebihan :
Pasir sering digunakan sebagai media tanam alternatif untuk menggantikan fungsi tanah. Sejauh ini, pasir dianggap memadai dan sesuai jika digunakan sebagai media untuk penyemaian benih, pertumbuhan bibit tanaman, dan perakaran setek batang tanaman. Sifatnya yang cepat kering akan memudahkan proses pengangkatan bibit tanaman yang dianggap sudah cukup umur untuk dipindahkan ke media lain. Sementara bobot pasir yang cukup berat akan mempermudah tegaknya setek batang. Selain itu, keunggulan media tanam pasir adalah kemudahan dalam penggunaan dan dapat meningkatkan sistem aerasi serta drainase media tanam. Pasir malang dan pasir bangunan merupakan Jenis pasir yang sering digunakan sebagai media tanam.
Kekurangan :
Karena memiliki pori-pori berukuran besar (pori-pori makro) maka pasir menjadi mudah basah dan cepat kering oleh proses penguapan. Kohesi dan konsistensi (ketahanan terhadap proses :o::misahan) pasir sangat kecil sehingga mudah terkikis oleh air atau angin. Dengan demikian, media pasir lebih membutuhkan pengairan dan pemupukan yang lebih intensif. Hal tersebut yang menyebabkan pasir jarang digunakan sebagai media tanam secara tunggal.
Nutrient Film Technique (NFT) termasuk cara baru bertanam tanam hidroponik. Cara kerja sistim ini yaitu sebagian akar terendam dalam larutan nutrisi dan sebagian lagi berada di permukaan larutan. Larutan bersirkulasi selama 24 jam. Lapisan larutan sangat tipis sekitar 3 mm. Penetapan NFT dalam penelitian ini adalah untuk mempelajari keseragaman konduktivitas listrik (EC) dan pH larutan nutrisi serta efektivitas aplikasi kemiringan talang. Penelitian dilakukan dengan menanam tanaman pada talang yang ditopang styrofoam, kemudian melakukan pengambilan data sesuai dengan data yang ada selama periode pertumbuhannya. Teknik ini menggunakan parit buatan yang terbuat dari lempengan logam tipis anti karat, dantanaman disemai di parit tersebut. Di sekitar saluran parit tersebut dialirkanair mineral bernutrisi sehingga sekitar tanaman akan terbentuk lapisan tipis yang dipakai sebagai makanan tanaman. Parit dibuat dengan aliran air yangsangat tipis lapisannya sehingga cukup melewati akar dan menimbulkan lapisannutrisi disekitar akar dan terdapat oksigen yang cukup untuk tanaman.

Gambar 4. 1. Foto sistim kerja NFT. Gambar 4. 2. Gambar Sistim kerja NFT

Unsur hara merupakan salah satu faktor yang berpengaruh pada pertumbuhan tanaman dan sangat dibutuhkan bagi tanaman itu sendiri. Unsur hara esensiil atau unsur hara mutlak terdapat 16 unsur hara. Dari 16 tersebut dibagi lagi menjadi 3 yaitu unsur hara makro, unsur hara mikro, dan unsur hara sekunder. Macam – macam unsur hara yang dibutuhkan tanaman dapat dikelompokkan sebagai berikut : C, H, O (diambil dari udara dan air, ketiga unsur ini mendominasi unsur dalam jaringan tanaman yaitu 90% dari total) ; N, P, K (diambil dari tanah, yang selanjutnya disebut unsur hara makro, karena dibutuhkan dalam jumlah banyak) ; Ca, Mg, S (diambil dari tanah yang selanjutnya disebut unsur hara sekunder) ; Fe, Cu, Mn, Zn, B, Mo, Cl (diambil dari tanah yang selanjutnya disebut unsur hara mikro karena dibutuhkan dalam jumlah sedikit). Selain itu ada beberapa unsur hara yaitu Na, Co, V, Ni, Si juga dikatgakan unsur hara mikro esensiil untuk beberapa tanaman. Walaupun diutuhkan unsur hara mikro yang sedikit, fungsi dari unsur hara mikro tersebut sama dengan unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah besar. Sehingga pembagian makro, sekunder, dan mikro hanya berdasarkan pada jumlah yang diserap tanaman bukan berdasarkan urutan kepentingan atau fungsinya. Rata – rata jumlah atau konsentrasi unsur hara makro dan sekunder dalam bentuk segera dapat digunakan tanaman.

V. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang diambil dari praktikum acara “Pembuatan Media Cair dan Padat untuk Hidroponik” yaitu ;
1. Hidroponik merupakan suatu sistem budidaya tanaman pada media yang tidak menyediakan unsur hara dan unsur hara esensial yang diperlukan tanaman, disediakan dalam bentuk larutan.
2. Media tanam hidroponik dapat berupa kerikil, pasir, gabus, arang, zeolit, atau tanpa media agregat (hanya air). berbeda dengan media tanam tanah yang berfungsi sebagai tempat tumbuh dan sumber makanan, media tanam air, pasir dan agregat hanya hanya sebagai tempat tumbuh saja tidak menyediakan makanan bagi tanaman, sehingga bercocok tanam sistem hidroponik mutlak memerlukan pupuk sebagai sumber makanan bagi tanaman.
3. Prospek usaha tanaman hidroponik salah satu perkembangan teknologi budidaya pertanian yang layak disebarluaskan. Hal ini disebabkan oleh semakin langkanya sumberdaya lahan, terutama akibat perkembangan sektor industri dan jasa, sehingga kegiatan usaha pertanian konvensional semakin tidak kompetitif karena tingginya harga lahan.

DAFTAR PUSTAKA

Falah, Siswa dan M. Affan Fajar. 2000. Produksi Tanaman dan Makanan dengan Menggunakan Hidroponik Sederhana hingga Otomatis. IO PPI Jepang [serial online]. http://io.ppi-jepang.org/article.php?id=200. Diakses pada tanggal 5 Oktober 2008.

Fitter dan., Hay, 2000. Hidroponik Tanaman Buah untuk Bisnis dan Hobi. Penebar Swadaya, Jakarta.

Hasim, M. 1995. Hidroponik Bertanam Tanpa Tanah. http://agungpurnomo. com/tag/hidroponik. Diakses pada 13 April 2009.

Kementrian Tenaga, Air dan Komunikasi (KTAK). 2006. Hidroponik. Kementrian Tenaga, Air dan Komunikasi (KTAK) [serial online]. http://www.idesa.net.my/modules/news/article.php?storyid=733. Diakses pada tanggal 5 Oktober 2008.

Lakitan, Hakim . 1996. Hortikultura Aspek Budidaya. Jakarta: Universitas Indonesia (UI Press ).

Lingga, P., dan Marsono, 2004. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya, Jakarta.

Nicholls, R. E., 1995. Hidroponik Tanaman Tanpa Tanah. Penabur, Jakarta.

Palungkun H; dan Yovita, H.I. 1999. Paprika, Hidroponik dan Nonhidroponik. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sibrani, Sahat M. 2006. Analisis Sistem Hidroponik NFT pada Tanaman Budidaya Selada. Fakultas Pertanian, Universitas Sumatra Utara.

Williams, C.N; J.O Uzo; dan W.T.H Peregrine. 1993. Produksi Sayur-sayuran di Daerah Tropika.Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Winarso, Sugeng. 2005. Dasar dan Kualitas Tanah. Kesuburan Tanah. Gava Media : Yogyakarta. Hal 18 – 19.

About Rev

Welcome to my blog, my name Rofiq alghafiri, born and raised in the town of Jember. Now is taking classes at the Faculty of Agriculture, University of Jember beloved. Living the dream, dream high, and make all become real. We all must succeed. Welcome to visit on this blog that is not important. Thank you very much !

Posted on June 12, 2011, in Laporan Praktikum. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: